Wednesday, January 17, 2018

green school




SMPN 8 Malang merupakan salah satu sekolah yang pantas dijadikan sebagai panutan sekolah lain. Lantaran, sekolah ini memiliki mental Adiwiyata yang luar biasa walaupun sama sekali belum bergelar Adiwiyata. Bahkan, SMPN 8 Malang berhasil mendapatkan predikat juara 1 pada ajang GSF 2017 kategori non Adiwiyata.
Saat masuk ke sekolah yang terletak di Jalan Arjuno 19 ini, jajaran tanaman gantung yang ditata sangat rapi di bagian kanan dan kiri serta merta menyambut siapa saja yang datang. Tanaman-tanaman tesebut ditata dalam pot-pot yang digantungkan pada rak tanaman berjaring-jaring. Sementara, tembok-temboknya dicat dengan nuansa kuning, oranye, dan merah yang membuat sekolah tampak elok.
Dari jalan masuk, koran ini langsung tiba di lapangan tempat siswa-siswi berolahraga. Lapangan itu dikelilingi oleh bangunan yang berada di setiap sisinya. Di pojok-pojok lapangan terdapat 5 pohon ketepang yang berdiri tegak didampingi beberapa stan taman yang nemanjang di sampingnya.
Tak hanya itu, tampak pula tanaman-tanaman vertical garden yang terpasang pada panel yang diletakkan di tiang-tiang sekolah. Di sana juga tersedia bangku-bangku taman yang kemudian menjadi tempat kepala SMPN 8 Malang untuk berbincang dengan wartawan koran ini kemarin (27/11).
Anny Yulistyowati, kepala SMPN 8 Malang, menjelaskan bahwa penataan sekolah yang dipimpinnya ini baru setahun terakhir sengaja dibentuk sedemikian rupa. Hal itu dilakukan guna memanfaatkan lahan sempit di sekolah tersebut. Sekalipun belum Adiwiyata, tapi mereka memprolamirkan bahwa pihaknya adalah Adiwiyata secara independen.
”Sekolah saya ini bukan Adiwiyata, tapi kami Adiwiyata sendiri. Secara tertulis memang tidak. Tapi, bisa dilihat bukti nyatanya. Suasananya hijau dan segar,” ungkapnya.
Menurutnya, menjadi atau tidaknya sebagai sekolah Adiwiyata bukanlah sesuatu yang penting. Sebab, bisa jadi yang Adiwiyata itu ada juga yang dimanipulasi dengan cara, misalnya, saat juri ke sekolah A, di sana ada tempat sampah modelnya bagus. Lalu, ketika visitasi ke sekolah B, ternyata tempat sampah dengan model bagus dan sama persis ada juga di sana. Secara tidak langsung ini menandakan bahwa ada manipulasi.
”Saya tidak mau fenomena semacam ini terjadi di sekolah ini. Saya ingin menunjukkan karya kreatif yang tidak meniru pihak lain,” terangnya.
Pada Green School Festival (GSF) 2017, SMPN 8 Malang mengusung tema ”SMP Negeri 8 Malang Berbudaya Lingkungan” . Hal ini didasarkan pada pemikiran, kalau bukan kita siapa lagi yang akan menyelamatkan bumi?
Adapun beberapa program unggulan dalam rangkaian tema ini dikategorikan menjadi tiga. Antara lain, penghijauan, pengolahan limbah cair, dan budi daya makhluk hidup. Anny pun kemudian menjabarkan apa saja yang masuk dalam kategori tersebut. Pertama, penghijauan.
”Seperti yang sudah dilihat dari awal masuk, ada tanaman-tanaman gantung yang ditata rapi dalam rak tanaman,” ujarnya.
Lalu, di samping tembok dekat musala juga ada tanaman gantung namun dihias sedemikian rupa dengan menggunakan media botol-botol sebagai pengganti pot. Botol-botol ini di cat warna-warni. Ada juga yang dilukis para siswa. Namun, bedanya dengan tanaman yang di depan, tanaman di sini hanya bisa disiram secara manual dengan selang biasanya.
Di samping tembok ini lebih canggih. Sudah terpasang pipa-pipa yang ditata di bagian atas tanaman. Aliran pipa ini berasal dari IPAL (instalasi air dari limbah air wudu). Pipa ini dilubangi kecil, sehingga bisa menyiram otomatis.
Kemudian, Anny bercerita, ada vertical garden yang disusun di panel-panel dan dipasang di setiap tiang sekolah. Tanaman ini merupakan tanaman jenis paku-pakuan dan anggrek. Lalu, di dinding depan kelas-kelas pun tampak tertempel tanaman-tanaman dengan kapilarisasi. Yakni, memanfaatkan media tanam dengan menggunakan sumbu kapiler untuk menyerap air. Ini diwajibkan untuk setiap siswa. Setiap kelas wajib memiliki tanaman ini sejumlah siswa yang ada di dalam kelas.
”Jika sampai ada tanaman yang mati, maka siswa diberikan sanksi menanam dua tanaman dengan model kapilarisasi,” terangnya. Tanamannya dibebaskan. Terserah tiap anak mau menanam apa.
Belum berhenti sampai di situ. Di lantai dua terdapat tanaman hidroponik dan akuaponik. Yaitu, menanam tanaman dengan media tanpa tanah yang memanfaatkan alat filter akuarium untuk sirkulasi air. Namun bedanya, di bawahnya bisa difungsikan sebagai media budi daya makhluk air seperti ikan cupang. Anny menyebutkan, lebih dari 1.000 tanaman yang ada di sekolahnya.
Program yang kedua adalah pengolahan limbah. Di sini, limbah organik diolah menjadi berbagai macam produk yang bermanfaat. Produk tersebut seperti kompos dari daun-daunan, pupuk cair dari daun, dan buah-buah yang busuk. Selanjutnya, juga dibuat briket yang kemudian dimanfaatkan untuk pembakaran sate dan gas untuk kantin. Briket ini dari daun-daun yang dirajang.
Sementara, kulit-kulit buah diolah menjadi nata. ”Jadi, kami memilih buah yang memiliki serat untuk diolah menjadi nata. Buah-buahan tersebut misalnya nanas dan melon,” ujarnya.
Kardus-kardus pun, juga bungkus-bungkus makanan, sedotan, semuanya didaur ulang menjadi kerajinan yang cantik seperti tas, sandal, dompet, dan lain-lain.
Di sisi lain SMPN 8 Malang juga melakukan pembudidayaan flora dan fauna. Dari segi flora, ada rumah jamur yang tiap 3 bulan panen 300 flok jamur. Biasanya, jamur-jamur ini dijual ke warung-warung. Tetapi, ada juga dari wali murid dan guru yang berminat membelinya.
Di sekolah ini juga banyak tanaman buah. Di antaranya, mangga, jambu biji, dan buah naga yang kemudian dimanfaatkan untuk jus di kantin.
Sedangkan terkait fauna, di sini ada budi daya ikan lele, nila, jangkrik, dan ikan cupang. Namun, hasilnya belum sebanyak jamur.
Ada satu lagi yang membuat sekolah ini terlihat indah dan beda dari yang lain. Anny menyampaikan bahwa para siswa sebelumnya juga dilombakan per kelas untuk menyambut GSF ini. Lomba yang diadakan adalah melukis di tembok dan tempat sampah. Seni mural ini mengusung tema lingkungan.
”Ada yang bunga-bunga, ada yang ikan, ada yang gambar hutan. Bahkan guru-guru juga ikut membantu,” ujarnya. Cat untuk melukis tembok semuanya disediakan pihak sekolah. Jadi, warga sekolah tinggal berkreasi.
Sebelumnya, SMPN 8 Malang juga pernah mendapatkan predikat juara 1 non Adiwiyata pada GSF pertama tahun 2014. Waktu itu, yang membuat sekolah ini menang lebih kepada penataan tanaman gantung di depan kelas-kelas dan budi daya sayur-mayur seperti sawi, selada, terong milik tiap kelas. Karena ada program pembangunan kantor baru, tatanannya jadi berubah.
”Ke depannya, kami ingin menciptakan renewable lainnya dari limbah, dan berinovasi lagi seperti membuat tempe dari biji ketapang, dan peyek jangkrik,” terangnya.

0 comments:

Post a Comment